Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Belajar Bercerita dari Kampung Sendiri

Gambar
Catatan dari Wuwuk Belajar Bercerita dari Kampung Sendiri Kamera dapat menjadi alat belajar ketika ia membantu kita melihat lebih lama, mendengar lebih sungguh-sungguh, dan memahami bahwa setiap cerita membawa hubungan serta tanggung jawab. Sebuah kamera dapat membuat seseorang merasa sedang memegang alat untuk merekam dunia. Tetapi dalam kerja komunitas, pertanyaan yang lebih penting justru muncul sebelum tombol rekam ditekan: siapa yang sedang dilihat, mengapa cerita itu perlu dibuat, siapa yang berhak menentukan bagaimana cerita disampaikan, dan apa yang terjadi setelah gambar keluar dari komunitas. Sejak 2015, Wuwuk Film tumbuh sebagai ruang bersama bagi anak muda dan anggota komunitas di Wuwuk untuk belajar, mendokumentasikan kehidupan, dan menciptakan karya audiovisual dari dalam komunitas. Kerja ini tidak memisahkan film dari tanah, bahasa, ingatan, pengetahuan, dan kehidupan sehari-hari. Film menjadi ...

Bahasa yang Kembali ke Tangan Anak-anak

Gambar
Catatan dari Wuwuk Bahasa yang Kembali ke Tangan Anak-anak Bahasa tidak bertahan karena disimpan. Ia bertahan karena kembali digunakan, diceritakan, dibaca, didengar, dan dipertemukan dengan generasi yang akan membawanya ke masa depan. Beberapa bulan setelah bekerja di kebun, anggota KUMA Tawaang mulai kembali duduk bersama dan bercerita. Di Paelepan, cerita-cerita tua Minahasa dalam bahasa Tontemboan muncul dalam percakapan. Ada yang bercerita, ada yang mendengar, ada yang merekam, dan ada yang mencatat. Dari pertemuan seperti itu lahir gagasan menyusun dua buku untuk anak-anak: satu tentang hewan dan tumbuhan dalam bahasa Tontemboan, dan satu lagi tentang cerita tua Tontemboan. Proses ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya hidup di kamus. Bahasa berada di mulut orang yang masih menggunakannya, di nama tumbuhan, hewan, tempat, makanan, pekerjaan, dan cerita yang diwariskan. Ketika sebuah kata tidak lagi di...

Menanam Rica, Belajar dari Tanah

Gambar
Catatan dari Wuwuk Menanam Rica, Belajar dari Tanah Satu tanaman dapat membawa banyak pelajaran tentang musim, pangan, kerja bersama, ekonomi, dan kemampuan kampung untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Pada 13 Juni 2026, sekitar 800 tanaman rica lokal ditanam di Tawaang. Dari jauh, kegiatan seperti ini dapat dibaca sebagai pekerjaan pertanian biasa: bibit dipindahkan ke tanah, tanaman dirawat, kemudian hasilnya diharapkan dapat dipanen. Tetapi ketika pekerjaan dilakukan bersama, satu tanaman dapat membuka banyak lapisan pengetahuan yang tidak terlihat jika kita hanya menghitung jumlah bibit atau nilai jual panennya. Rica sangat dekat dengan kehidupan Minahasa. Ia hadir di dapur, di meja makan, dalam rasa, dalam cara orang menyiapkan makanan, dan dalam ingatan tentang rumah. Karena kedekatan itu, menanam rica lokal tidak hanya berhubungan dengan ekonomi. Ia juga berhubungan dengan pertanyaan tentang tanaman...

Ketika Kampung Menjadi Tempat Masa Depan

Gambar
Catatan dari Wuwuk Ketika Kampung Menjadi Tempat Masa Depan Kampung tidak selalu harus ditinggalkan untuk menemukan masa depan. Kadang-kadang masa depan justru mulai terlihat ketika orang kembali membaca tanah, kerja, dan hubungan yang sudah lama berada di sekelilingnya. Di Wuwuk, pulang kampung tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama. Kadang-kadang ia berarti belajar melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap biasa: kebun keluarga, tanah yang mulai kosong, air yang masih mengalir, pekerjaan orang tua, dan hubungan antartetangga yang dulu membentuk kehidupan sehari-hari. Ketika banyak anak muda memilih pergi untuk bekerja di kota, kapal, pertambangan, atau tempat lain, kampung perlahan kehilangan bukan hanya tenaga, tetapi juga orang-orang yang seharusnya meneruskan hubungan dengan tanah. Dari kegelisahan seperti itulah KUMA Tawaang tumbuh. Pada 9 September 2020, sekelompok pemuda adat berkumpu...

Belajar dari Kalender Adat

Gambar
Catatan dari Wuwuk Belajar dari Kalender Adat Wuwuk, Minahasa · Januari 2026 Kalender adat mengajarkan bahwa waktu tidak hanya dibaca dari angka dan tanggal. Waktu juga dibaca dari tanah, langit, hujan, angin, tumbuhan, hewan, dan pengalaman manusia yang terus hidup bersama wilayahnya. Ketika membicarakan kalender, kita mudah membayangkan sesuatu yang tergantung di dinding: angka, tanggal, nama bulan, dan kotak-kotak yang menandai hari. Tetapi pengalaman hidup Masyarakat Adat Minahasa memperlihatkan cara lain untuk mengenali waktu. Di kebun dan sawah, waktu tidak berdiri sendiri. Ia hadir bersama hujan yang mulai berubah, tanah yang masih menyimpan air, angin yang bergerak dari arah tertentu, tumbuhan yang berbunga, suara serangga, perilaku hewan, posisi matahari, dan susunan bintang yang pernah diamati berulang-ulang oleh generas...