Cara Kami Belajar
Papendangan
Belajar berlangsung dengan mendengar, bertanya, melihat, melakukan, bekerja bersama, menceritakan kembali, dan mempraktikkan lagi.
Belajar berlangsung melalui hubungan.
Papendangan bukan kelas dalam pengertian konvensional. Ia adalah cara belajar yang tumbuh dari hubungan antara orang, pengetahuan, wilayah, kerja, pengalaman, dan kehidupan sehari-hari.
Prosesnya tidak selalu berjalan dalam urutan yang kaku. Orang dapat mulai dengan mendengar, kemudian mencoba, kembali bertanya, melihat lagi, lalu mempraktikkan sesuatu bersama orang lain.
Belajar bukan memindahkan pengetahuan dari satu kepala ke kepala yang lain.
Mendengar.
Mendengar adalah awal dari banyak proses belajar.
Orang mendengar cerita, bahasa, pengalaman, ingatan, bunyi lingkungan, penjelasan, pertanyaan, dan perbedaan pendapat.
Mendengar juga berarti memberi ruang bagi orang lain untuk menyampaikan pengetahuannya dengan caranya sendiri.
Bertanya.
Pertanyaan membuka hubungan.
Mengapa sebuah tempat mempunyai nama tertentu? Siapa yang mengetahui cerita ini? Mengapa tanaman tumbuh berbeda di tempat lain? Bagaimana sesuatu dilakukan?
Bertanya bukan berarti menuntut semua pengetahuan untuk dibuka. Jawaban juga dapat berupa batas.
Melihat.
Banyak hal dipelajari dengan memperhatikan.
Melihat cara seseorang memegang alat. Melihat perubahan tanah. Melihat arah air. Melihat urutan kerja. Melihat gerak tubuh. Melihat apa yang terjadi ketika sesuatu dilakukan.
Melihat bukan sekadar memandang. Ia adalah latihan perhatian.
Melakukan.
Pengetahuan tidak berhenti pada penjelasan.
Orang ikut menanam, merekam, mengedit, memasak, menulis, memainkan alat musik, membaca arsip, atau berjalan ke tempat yang sedang dibicarakan.
Melakukan membuka jenis pengetahuan yang tidak selalu dapat diperoleh hanya dengan mendengar atau membaca.
Bekerja bersama.
Belajar terjadi dalam relasi.
Kerja bersama mempertemukan kemampuan, pengalaman, keterbatasan, tanggung jawab, dan cara mengetahui yang berbeda.
Dalam kerja bersama, orang tidak hanya mempelajari sebuah teknik. Mereka juga belajar bagaimana berhubungan.
Menceritakan kembali.
Setelah melihat atau melakukan sesuatu, seseorang perlu mampu menjelaskan kembali apa yang terjadi.
Apa yang dilakukan? Mengapa dilakukan seperti itu? Apa yang berhasil? Apa yang tidak dipahami? Apa yang berubah?
Menceritakan kembali membantu pengetahuan diperiksa.
Mempraktikkan lagi.
Pengetahuan mulai hidup ketika dapat dilakukan kembali.
Praktik kedua tidak harus sama persis dengan praktik pertama. Orang dapat memperbaiki, menyesuaikan, atau menemukan cara baru berdasarkan pengalaman.
Belajar berarti mampu kembali melakukan, bukan sekadar mengingat penjelasan.
Belajar dimulai dengan mengetahui siapa yang harus didengar.
Dalam pengetahuan adat yang diwariskan, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan, tetua adat dan pemegang pengetahuan mempunyai kedudukan primer sesuai pengetahuan yang mereka warisi dan jalankan.
Kedudukan itu tidak berasal dari gelar akademik, tetapi dari pewarisan, pengalaman hidup, praktik, tanggung jawab, dan pengakuan komunitas.
Tetua bukan satu-satunya sumber untuk semua jenis pengetahuan. Petani, perempuan, pemegang ritual, penutur bahasa, pelaku seni, pemuda, anak, dan orang lain dapat menjadi sumber penting pada pengetahuan yang mereka jalankan dan pahami.
Tidak semua orang mengajar semua hal. Orang belajar kepada mereka yang mengetahui, menjalankan, dan bertanggung jawab terhadap pengetahuan tersebut.
Pemberi pengetahuan dan penerima pengetahuan.
Pemberi Pengetahuan adalah orang yang dalam suatu proses mempunyai pengetahuan, pengalaman, praktik, tanggung jawab, atau peran yang diakui untuk membagikan dan meneruskan pengetahuan tersebut.
Penerima Pengetahuan adalah orang yang dalam proses itu sedang mendengar, melihat, bertanya, mencoba, mempraktikkan, dan menerima tanggung jawab atas apa yang dipelajari.
Keduanya bukan jabatan, gelar, atau posisi struktural di Universitas Adat Wuwuk. Keduanya adalah fungsi yang muncul sesuai pengetahuan dan situasi belajar.
Orang yang sama dapat menjadi pemberi pengetahuan dalam satu proses dan penerima pengetahuan dalam proses lain.
Perannya dapat berganti. Sumber pengetahuan dan tanggung jawab yang melekat padanya tetap dihormati.
Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang telah belajar?
Pengetahuan diuji di hadapan kehidupan.
Film dapat diputar kembali kepada warga. Tulisan dapat dibaca oleh orang yang mengetahui ceritanya. Nama dan istilah dapat diperiksa.
Praktik bertani diuji oleh musim, tanah, tanaman, dan hasil kerja.
Evaluasi bukan sekadar angka. Pengetahuan diuji melalui kehidupan sosialnya.
Bahasa digunakan untuk mengetahui dunia.
Tontemboan bukan hanya sesuatu yang dipelajari. Ia juga dapat digunakan untuk belajar.
Nama tempat, tumbuhan, hewan, pekerjaan, ritual, cerita, dan hubungan membawa pengetahuan yang tidak selalu dapat dipindahkan sepenuhnya ke bahasa lain.
Karena itu bahasa ibu perlu hidup melintasi kebun, rumah, film, buku, ritual, arsip, perjalanan, dan percakapan sehari-hari.
Tontemboan adalah salah satu bahasa pengetahuan Universitas Adat Wuwuk.
Tidak semua pengetahuan harus dibuka.
Ada pengetahuan yang dapat dibagikan secara terbuka. Ada yang berada dalam keluarga. Ada yang berkaitan dengan ritual atau tempat tertentu.
Mengetahui sesuatu tidak otomatis berarti mempunyai hak untuk merekam atau menyebarkannya.
Belajar juga berarti memahami batas.
Belajar mengikuti kehidupan, bukan semester.
Universitas Adat Wuwuk tidak harus membagi kehidupan ke dalam semester akademik. Ritme belajar dapat mengikuti kalender komunitas dan perubahan yang benar-benar terjadi di wilayah.
Ada waktu membuka dan membersihkan kebun, menanam, merawat, panen, bekerja di hutan, membuat film, menulis, melaksanakan ritual, berkumpul, melakukan perjalanan, mengadakan festival, menerima tamu, dan memberi waktu bagi tanah untuk beristirahat.
Kalender adat bukan mata pelajaran tersendiri. Ia membantu menentukan kapan sebuah pengetahuan dapat dipelajari dalam konteks kehidupannya.
Waktu belajar mengikuti kehidupan.
Belajar juga berarti menghubungkan kembali.
Belajar dapat menghubungkan kembali manusia dengan wilayah, anak dengan orang tua dan tetua, bahasa dengan kehidupan sehari-hari, arsip dengan tempat asalnya, serta cerita dengan komunitas yang memilikinya.
Ritual, kerja bersama, percakapan, perjalanan, dan praktik sehari-hari juga dapat membuka kembali hubungan dengan leluhur, alam, dan kehidupan yang lebih luas.
Pengetahuan hidup di dalam hubungan.
Belajar berlangsung selama kita tetap berhubungan dengan kehidupan.
Lihat Ekosistem →Papendangan
Learning happens by listening, asking, observing, doing, working together, retelling, and practicing again.
Learning happens through relationships.
Papendangan is not a classroom in the conventional sense. It is a way of learning that grows through relationships between people, knowledge, territory, work, experience, and everyday life.
The process does not always follow a fixed sequence. A person may begin by listening, then try something, ask again, observe again, and later practice it together with others.
Learning is not only the transfer of knowledge from one head to another.
Listen.
Listening is the beginning of many learning processes.
People listen to stories, language, experience, memory, environmental sounds, explanations, questions, and disagreement.
Listening also means making room for others to express knowledge in their own way.
Ask.
Questions open relationships.
Why does a place have this name? Who knows this story? Why does a plant grow differently elsewhere? How is something done?
Asking does not mean demanding that all knowledge be opened. A boundary can also be an answer.
Observe.
Much is learned by paying attention.
Observe how someone holds a tool. Observe changes in the soil. Observe the direction of water. Observe the sequence of work. Observe movement. Observe what happens when something is done.
Observing is more than looking. It is a practice of attention.
Do.
Knowledge does not stop at explanation.
People plant, record, edit, cook, write, play instruments, read archives, or walk to the place being discussed.
Doing opens forms of knowledge that cannot always be gained by listening or reading alone.
Work together.
Learning happens through relationships.
Collective work brings together different skills, experiences, limitations, responsibilities, and ways of knowing.
Through working together, people learn not only a technique. They also learn how to relate to one another.
Retell.
After observing or doing something, a person should be able to explain what happened.
What was done? Why was it done that way? What worked? What remains unclear? What changed?
Retelling helps knowledge to be examined.
Practice again.
Knowledge begins to live when it can be practiced again.
A second practice does not have to reproduce the first exactly. People may improve, adapt, or discover another way through experience.
Learning means being able to do again, not merely remember an explanation.
Learning begins by knowing who should be listened to.
In inherited adat knowledge that is practiced and carried with responsibility, elders and knowledge holders have a primary position according to the knowledge they have inherited and practiced.
This position does not come from academic titles, but from transmission, lived experience, practice, responsibility, and community recognition.
Elders are not the only source of every kind of knowledge. Farmers, women, ritual knowledge holders, language speakers, artists, youth, children, and others may be important sources in the knowledge they practice and understand.
Not everyone teaches everything. People learn from those who know, practice, and carry responsibility for that knowledge.
Knowledge giver and knowledge receiver.
A Knowledge Giver is a person who, in a particular learning process, has the knowledge, experience, practice, responsibility, or recognized role needed to share and transmit that knowledge.
A Knowledge Receiver is a person who, in that process, is listening, observing, asking, trying, practicing, and taking responsibility for what is being learned.
These are not offices, titles, or structural positions within Wuwuk Indigenous Peoples’ University. They are functions that arise according to the knowledge and the learning situation.
The same person may be a Knowledge Giver in one process and a Knowledge Receiver in another.
Roles can change. The source of knowledge and the responsibilities attached to it remain respected.
How do we know that someone has learned?
Knowledge is tested in life.
Films can be screened back to residents. Writing can be read by people who know the story. Names and terms can be checked.
Farming practices are tested by seasons, soil, crops, and the work itself.
Evaluation is not merely a number. Knowledge is tested through its social life.
Language is used to know the world.
Tontemboan is not only something to be studied. It can also be used for learning.
Place names, plants, animals, work, ritual, stories, and relationships carry knowledge that cannot always be fully transferred into another language.
The mother tongue therefore needs to live across gardens, homes, film, books, ritual, archives, journeys, and everyday conversation.
Tontemboan is one of the languages of knowledge at Wuwuk Indigenous Peoples’ University.
Not all knowledge must be opened.
Some knowledge can be shared openly. Some belongs within families. Some is connected to rituals or particular places.
Knowing something does not automatically mean having the right to record or distribute it.
Learning also means understanding limits.
Learning follows life, not semesters.
Wuwuk Indigenous Peoples’ University does not have to divide life into academic semesters. The rhythm of learning can follow the community calendar and the changes actually taking place in the territory.
There are times for opening and clearing gardens, planting, tending crops, harvesting, forest work, filmmaking, writing, ritual, gathering, journeys, festivals, receiving guests, and allowing land to rest.
The adat calendar is not a separate subject. It helps determine when knowledge can be learned within the context of life itself.
Learning time follows life.
Learning also means reconnecting.
Learning can reconnect people with territory, children with parents and elders, language with everyday life, archives with the places they came from, and stories with the communities that hold them.
Ritual, collective work, conversation, journeys, and everyday practice can also reopen relationships with ancestors, nature, and wider life.
Knowledge lives within relationships.