Bahasa yang Kembali ke Tangan Anak-anak
Bahasa yang Kembali ke Tangan Anak-anak
Bahasa tidak bertahan karena disimpan. Ia bertahan karena kembali digunakan, diceritakan, dibaca, didengar, dan dipertemukan dengan generasi yang akan membawanya ke masa depan.
Beberapa bulan setelah bekerja di kebun, anggota KUMA Tawaang mulai kembali duduk bersama dan bercerita. Di Paelepan, cerita-cerita tua Minahasa dalam bahasa Tontemboan muncul dalam percakapan. Ada yang bercerita, ada yang mendengar, ada yang merekam, dan ada yang mencatat. Dari pertemuan seperti itu lahir gagasan menyusun dua buku untuk anak-anak: satu tentang hewan dan tumbuhan dalam bahasa Tontemboan, dan satu lagi tentang cerita tua Tontemboan.
Proses ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya hidup di kamus. Bahasa berada di mulut orang yang masih menggunakannya, di nama tumbuhan, hewan, tempat, makanan, pekerjaan, dan cerita yang diwariskan. Ketika sebuah kata tidak lagi dipakai dalam kehidupan sehari-hari, yang hilang bukan hanya bunyinya. Cara melihat sesuatu juga dapat ikut menghilang.
Buku sebagai jalan kembali, bukan tujuan akhir
Buku dapat membantu mempertemukan anak-anak dengan bahasa yang mungkin tidak lagi mereka dengar setiap hari. Tetapi buku tidak boleh diperlakukan sebagai tempat terakhir bagi bahasa. Bahasa tetap membutuhkan percakapan. Anak perlu mendengar bagaimana kata diucapkan, dalam situasi apa kata digunakan, siapa yang menggunakan bentuk tertentu, dan bagaimana makna dapat berbeda menurut pengalaman penuturnya.
Karena itu proses penyusunan buku menjadi sama pentingnya dengan buku yang selesai dicetak. Tetua membawa kosakata, ingatan, dan cerita. Perempuan Adat membawa pengetahuan dari keluarga, kebun, pangan, tumbuhan, dan pendidikan anak. Pemuda mencatat, mendokumentasikan, menyusun, mengilustrasikan, dan memikirkan bagaimana pengetahuan itu dapat disajikan kepada anak-anak hari ini. Tidak ada satu kelompok yang berdiri sebagai guru tunggal.
Ketika sumber tertulis dan pengetahuan hidup bertemu
Kamus, arsip, dan penelitian tetap berguna, tetapi tidak otomatis menjadi suara tertinggi. Dalam proses KUMA, sumber tertulis dipakai sebagai pembanding dan alat pemeriksaan. Jika ada perbedaan makna, penjelasan para penutur dan pemegang pengetahuan menjadi hal yang harus didengar secara serius. Cara kerja ini penting karena banyak pengetahuan Masyarakat Adat pernah ditulis oleh orang dari luar komunitas, kadang dengan konteks yang berbeda dari penggunaan sehari-hari.
Di sinilah penerbitan dapat menjadi bagian dari pendidikan adat. Wuwuk Film mendukung proses menulis, menyunting, merancang, mencetak, dan menerbitkan pengetahuan komunitas, tetapi kepemilikan pengetahuan tetap berada pada para penulis, sumber, dan komunitas yang memegangnya. Buku bukan cara mengambil pengetahuan keluar dari komunitas. Ia dapat menjadi salah satu cara untuk mengembalikannya kepada generasi berikutnya.
Bahasa kembali ke tangan anak-anak
Ketika seorang anak membuka buku dan menemukan nama hewan atau tumbuhan dalam bahasa Tontemboan, yang diperkenalkan sebenarnya bukan hanya kosakata. Anak sedang diajak mengenali dunia yang berada di sekelilingnya dengan bahasa yang tumbuh dari tempat itu. Dari nama, pembelajaran dapat bergerak ke bentuk tumbuhan, kegunaan, habitat, cerita, makanan, dan hubungan manusia dengannya.
Bahasa akan bertahan bukan karena berhasil disimpan dengan baik, tetapi karena terus digunakan. Buku dapat membuka pintu, tetapi percakapan, kebun, rumah, permainan, cerita, dan pertemuan antargenerasi adalah tempat bahasa benar-benar kembali hidup.
Tulisan ini dikembangkan dari proses KUMA Tawaang menyusun buku belajar bahasa Tontemboan dan praktik penerbitan pengetahuan komunitas Wuwuk Film.
When Language Returns to Children’s Hands
A language does not survive because it is stored. It survives because it is used again, spoken, read, heard, and brought into relationship with the generation that will carry it forward.
After months of working in gardens, members of KUMA Tawaang began sitting together again to talk. In the Paelepan, old Minahasan stories in the Tontemboan language surfaced in conversation. Some people told stories, some listened, some recorded, and some took notes. From meetings like these came the idea for two children’s books: one about animals and plants in Tontemboan, and another about old Tontemboan stories.
This process shows that language does not live only in dictionaries. Language lives in the mouths of people who still use it, in the names of plants, animals, places, food, work, and stories passed between generations. When a word disappears from everyday use, it is not only a sound that is lost. A way of seeing something can disappear with it.
A book as a way back, not a final destination
A book can help children encounter a language they may no longer hear every day. But a book should not become the final home of the language. Language still needs conversation. Children need to hear how a word is spoken, the situations in which it is used, who uses particular forms, and how meanings may differ according to a speaker’s experience.
This is why the process of making the books matters as much as the printed books themselves. Elders bring vocabulary, memory, and stories. Indigenous women bring knowledge from family life, gardens, food, plants, and children’s learning. Young people record, document, organise, illustrate, and think about how this knowledge can be presented to children today. No single group stands above the others as the only teacher.
When written sources meet living knowledge
Dictionaries, archives, and research remain useful, but they do not automatically become the highest authority. In KUMA’s process, written sources are used for comparison and checking. When meanings differ, explanations from speakers and knowledge holders need to be taken seriously. This matters because much Indigenous knowledge has been written by people from outside communities, sometimes without the full context of everyday use.
Publishing can therefore become part of Indigenous education. Wuwuk Film supports communities in writing, editing, designing, printing, and publishing their knowledge, while ownership remains with the writers, sources, and communities that hold it. A book should not become a method for extracting knowledge from the community. It can become one way of returning that knowledge to the next generation.
Language returns to children’s hands
When a child opens a book and finds the name of an animal or plant in Tontemboan, what is being introduced is not only vocabulary. The child is being invited to recognise the surrounding world through a language that grew from that place. From a name, learning can move toward the plant’s form, use, habitat, stories, food, and the relationships people have with it.
A language survives not because it has been stored safely, but because it continues to be used. A book can open a door, but conversation, gardens, homes, play, stories, and intergenerational encounters are where language truly returns to life.
This note was developed from KUMA Tawaang’s Tontemboan children’s book process and Wuwuk Film’s community publishing practice.
.png)
Komentar
Posting Komentar