Ketika Kampung Menjadi Tempat Masa Depan

Catatan dari Wuwuk

Ketika Kampung Menjadi Tempat Masa Depan


Kampung tidak selalu harus ditinggalkan untuk menemukan masa depan. Kadang-kadang masa depan justru mulai terlihat ketika orang kembali membaca tanah, kerja, dan hubungan yang sudah lama berada di sekelilingnya.

Di Wuwuk, pulang kampung tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama. Kadang-kadang ia berarti belajar melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap biasa: kebun keluarga, tanah yang mulai kosong, air yang masih mengalir, pekerjaan orang tua, dan hubungan antartetangga yang dulu membentuk kehidupan sehari-hari. Ketika banyak anak muda memilih pergi untuk bekerja di kota, kapal, pertambangan, atau tempat lain, kampung perlahan kehilangan bukan hanya tenaga, tetapi juga orang-orang yang seharusnya meneruskan hubungan dengan tanah.

Dari kegelisahan seperti itulah KUMA Tawaang tumbuh. Pada 9 September 2020, sekelompok pemuda adat berkumpul dan membicarakan rencana membentuk Kelompok Usaha Masyarakat Adat. Keesokan harinya mereka membuka lahan, memasak makanan Minahasa, dan makan bersama di kebun. Tidak ada gedung organisasi atau ruang rapat yang resmi. Ada tanah, tubuh yang bekerja, percakapan, dan keputusan untuk memulai dari sesuatu yang dekat.

Kampung bukan tempat yang selesai

Kampung sering dibaca dari apa yang dianggap kurang. Jalan dibandingkan dengan kota, pendapatan dibandingkan dengan pekerjaan di luar, kebun dibandingkan dengan industri besar, dan kehidupan desa dibandingkan dengan ukuran keberhasilan yang datang dari tempat lain. Tetapi cara pandang seperti itu mudah membuat kita lupa bahwa kampung juga memiliki sumber kehidupan yang tidak selalu dapat dihitung dengan ukuran yang sama. Tanah yang dapat ditanami, pangan yang dapat dipanen, air yang tetap dijaga, pengetahuan membaca musim, dan kemampuan bekerja bersama adalah bentuk kekayaan yang hanya dapat bertahan jika terus dipraktikkan.

KUMA menjadi ruang untuk menguji kembali gagasan itu. Pemuda belajar membuka kebun, menanam, memelihara ikan, beternak, mengatur pembagian kerja, mencatat keuangan, dan memikirkan bagaimana hasil kerja dapat memperkuat kehidupan bersama. Tidak semua berhasil. Ada masa ketika kegiatan melemah, ada kerugian, dan ada pekerjaan yang berjalan lebih lambat daripada rencana. Tetapi kegagalan itu sendiri menjadi bagian dari proses belajar karena kehidupan kampung memang tidak bergerak seperti sebuah proyek yang selalu dapat diprediksi.

Pulang sebagai cara belajar

Pulang tidak berarti menolak teknologi, pendidikan, atau pengalaman dari luar. Orang dapat kembali ke kampung sambil membawa pengetahuan baru, telepon pintar, kamera, jaringan, dan keterampilan yang diperoleh di tempat lain. Pertanyaannya bukan apakah hal-hal baru itu boleh masuk, melainkan apakah semuanya membantu memperkuat hubungan dengan wilayah atau justru membuat manusia semakin jauh dari tanah dan komunitasnya.

Di Universitas Adat Wuwuk, pengalaman KUMA membantu kami memahami bahwa kampung dapat menjadi tempat belajar masa depan. Kebun bukan hanya lokasi produksi. Ia dapat menjadi tempat untuk memahami musim, ekonomi, pangan, kerja kolektif, kegagalan, kesabaran, dan pengambilan keputusan. Orang tua bukan hanya tenaga kerja lama yang harus digantikan. Mereka adalah pemegang pengalaman. Pemuda bukan hanya penerus yang menunggu giliran, tetapi orang yang harus masuk ke dalam kerja nyata agar pengetahuan tetap bergerak.

Masa depan kampung tidak datang dari nostalgia. Ia dibangun ketika orang masih bersedia bekerja, bertanya, belajar, dan menjaga hubungan dengan tanah yang membuat kehidupan tetap mungkin.

Tulisan ini dikembangkan dari catatan KUMA Tawaang, “Ketika Kampung Memanggil Pulang.”

Notes from Wuwuk

When the Village Becomes a Place for the Future

A village does not always have to be left behind in order to find a future. Sometimes the future begins to appear when people learn to read again the land, work, and relationships that have long surrounded them.

In Wuwuk, returning to the village does not always mean coming back to the same place. Sometimes it means learning to see again what has long been treated as ordinary: family gardens, land that is becoming empty, water that still flows, the work of parents, and relationships between neighbours that once shaped everyday life. As many young people leave to work in cities, on ships, in mining areas, or elsewhere, the village gradually loses not only labour but also the people who might continue relationships with the land.

KUMA Tawaang grew from this kind of concern. On 8 September 2020, a group of Indigenous youth gathered to discuss forming a Kelompok Usaha Masyarakat Adat, or Indigenous Peoples’ community enterprise group. The next day they opened land, cooked Minahasan food, and ate together in the garden. There was no organisational building or formal meeting room. There was land, bodies at work, conversation, and a decision to begin with what was close at hand.

The village is not a finished place

Villages are often described through what they supposedly lack. Roads are compared with cities, incomes with jobs elsewhere, gardens with large industries, and village life with standards of success produced somewhere else. That way of seeing can make us forget that a village also contains forms of life that cannot always be measured by the same standards. Land that can still be cultivated, food that can still be harvested, water that can still be cared for, knowledge of seasons, and the ability to work collectively are forms of wealth that survive only when they continue to be practiced.

KUMA became a space for testing this idea again. Young people learned to open gardens, plant crops, raise fish and livestock, divide work, keep financial records, and think about how their labour could strengthen shared life. Not everything succeeded. There were periods when activity weakened, there were losses, and some work moved more slowly than planned. Yet failure also became part of learning because village life does not move like a project whose outcomes can always be predicted.

Returning as a way of learning

Returning does not mean rejecting technology, education, or experience from outside. People can come back carrying new knowledge, smartphones, cameras, networks, and skills gained elsewhere. The question is not whether new things should enter the village, but whether they help strengthen relationships with territory or instead move people further away from land and community.

At Wuwuk Indigenous Peoples’ University, KUMA helps us understand the village as a place for learning toward the future. A garden is not only a site of production. It can teach seasons, economics, food, collective work, failure, patience, and decision-making. Elders are not simply an older workforce waiting to be replaced. They carry experience. Young people are not merely future successors; they need to enter actual work so knowledge can continue to move.

The future of the village does not come from nostalgia. It is built when people are still willing to work, ask questions, learn, and care for the relationship with the land that makes life possible.

This note was developed from the KUMA Tawaang article “Ketika Kampung Memanggil Pulang.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Bercerita dari Kampung Sendiri

Belajar dari Kalender Adat

Bahasa yang Kembali ke Tangan Anak-anak