Menanam Rica, Belajar dari Tanah
Menanam Rica, Belajar dari Tanah
Satu tanaman dapat membawa banyak pelajaran tentang musim, pangan, kerja bersama, ekonomi, dan kemampuan kampung untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Pada 13 Juni 2026, sekitar 800 tanaman rica lokal ditanam di Tawaang. Dari jauh, kegiatan seperti ini dapat dibaca sebagai pekerjaan pertanian biasa: bibit dipindahkan ke tanah, tanaman dirawat, kemudian hasilnya diharapkan dapat dipanen. Tetapi ketika pekerjaan dilakukan bersama, satu tanaman dapat membuka banyak lapisan pengetahuan yang tidak terlihat jika kita hanya menghitung jumlah bibit atau nilai jual panennya.
Rica sangat dekat dengan kehidupan Minahasa. Ia hadir di dapur, di meja makan, dalam rasa, dalam cara orang menyiapkan makanan, dan dalam ingatan tentang rumah. Karena kedekatan itu, menanam rica lokal tidak hanya berhubungan dengan ekonomi. Ia juga berhubungan dengan pertanyaan tentang tanaman apa yang masih dipelihara, benih apa yang masih dimiliki, bagaimana orang membaca waktu tanam, dan seberapa jauh kampung masih mampu memenuhi kebutuhan pangannya dari tanah sendiri.
Satu tanaman membawa banyak pengetahuan
Menanam tidak dimulai ketika bibit masuk ke lubang. Sebelumnya ada keputusan tentang lahan, keadaan tanah, hujan, musim, waktu, dan kesiapan orang yang akan bekerja. Dalam pengalaman KUMA Tawaang, penanaman rica juga dikaitkan dengan cara orang tua membaca bulan, cuaca, dan tanda-tanda alam. Pengetahuan seperti ini tidak selalu tertulis sebagai aturan. Ia hidup dalam pengalaman panjang dan dalam percakapan yang muncul ketika orang bekerja bersama.
Ketika pemuda ikut menanam, mereka tidak hanya belajar teknik. Mereka melihat bagaimana keputusan dibuat, bagaimana tanah diperlakukan, mengapa satu waktu dipilih dan waktu lain ditunda, bagaimana tanaman perlu dirawat setelah penanaman, dan bagaimana kerja dibagi agar kebun tidak bergantung pada satu orang. Dari satu tanaman, pembelajaran dapat bergerak ke musim, pangan, ekonomi, kebersamaan, dan hubungan antargenerasi.
Pangan dan kemandirian
Tanaman lokal juga membawa pertanyaan tentang ketergantungan. Jika benih, pupuk, makanan, dan seluruh kebutuhan produksi harus selalu datang dari luar, kampung semakin sulit menentukan arah hidupnya sendiri. Kemandirian bukan berarti menutup diri dari pasar atau teknologi, tetapi memperkuat kemampuan untuk memilih. Kampung yang masih memiliki pengetahuan menanam, benih, lahan, dan kerja bersama memiliki posisi yang berbeda dari kampung yang hanya menjadi konsumen.
Karena itu hasil kebun tidak hanya dapat dihitung dari berapa kilogram yang dipanen. Yang perlu dilihat juga adalah apakah penanaman memperkuat kemampuan orang untuk bekerja bersama, apakah generasi muda ikut belajar, apakah tanaman lokal tetap digunakan, dan apakah hasilnya membantu kehidupan keluarga dan komunitas.
Belajar dari tanah yang sama
Di Universitas Adat Wuwuk, kebun memberi pelajaran bahwa pengetahuan tidak selalu datang dalam bentuk materi ajar yang sudah selesai. Kadang-kadang ia muncul ketika seseorang memegang bibit, ketika orang lain menjelaskan keadaan tanah, ketika pekerjaan harus dihentikan karena hujan, atau ketika tanaman gagal dan semua orang perlu mencari tahu penyebabnya. Pengetahuan tumbuh melalui perhatian.
Rica yang ditanam hari ini mungkin tampak sederhana. Tetapi ketika ia ditanam dengan pengetahuan, kerja bersama, dan tanggung jawab terhadap tanah, satu tanaman dapat menjadi jalan untuk belajar bagaimana kampung merawat pangan sekaligus masa depannya.
Tulisan ini dikembangkan dari catatan KUMA Tawaang, “Menanam Rica, Merawat Leluhur.”
Planting Chilli, Learning from the Land
A single crop can carry many lessons about seasons, food, collective work, economics, and a village’s ability to determine its own direction.
On 13 June 2026, around 800 local chilli plants were planted in Tawaang. From a distance, this might look like ordinary agricultural work: seedlings are placed in the soil, plants are cared for, and eventually a harvest is expected. Yet when the work is done together, a single crop can open many layers of knowledge that disappear if we only count seedlings or calculate market value.
Chilli is deeply embedded in Minahasan life. It is present in kitchens, at the table, in taste, in the way food is prepared, and in memories of home. Because of this closeness, planting local chilli is not only an economic activity. It also raises questions about which plants are still being cared for, which seeds remain available, how people read planting time, and how far the village can still meet its food needs from its own land.
One crop carries many forms of knowledge
Planting does not begin when a seedling enters the ground. Before that come decisions about land, soil conditions, rain, season, timing, and the readiness of people who will work. In KUMA Tawaang’s experience, chilli planting is also connected with ways elders read the moon, weather, and natural signs. This knowledge does not always exist as a written rule. It lives in long experience and in conversations that emerge while people work together.
When young people join the planting, they do not only learn technique. They see how decisions are made, how soil is treated, why one time is chosen and another postponed, how plants need to be cared for after planting, and how work is shared so a garden does not depend on one person. From a single crop, learning can move toward seasons, food, economics, collective work, and intergenerational relationships.
Food and self-determination
Local crops also raise questions about dependence. If seeds, fertiliser, food, and every production input must always come from outside, a village has less room to determine its own direction. Self-reliance does not mean closing the village to markets or technology. It means strengthening the capacity to choose. A village that still holds planting knowledge, seeds, land, and collective labour occupies a different position from one that has become only a consumer.
A harvest therefore cannot be measured only by kilograms. We also need to ask whether planting strengthens people’s ability to work together, whether young people are learning, whether local crops continue to be used, and whether the harvest supports family and community life.
Learning from the same soil
At Wuwuk Indigenous Peoples’ University, gardens show us that knowledge does not always arrive as a completed lesson. Sometimes it appears when someone holds a seedling, when another person explains the condition of the soil, when work has to stop because of rain, or when plants fail and everyone needs to understand why. Knowledge grows through attention.
The chilli planted today may look simple. But when it is planted with knowledge, collective work, and responsibility toward the land, a single crop can become a way of learning how a village cares for both food and its future.
This note was developed from the KUMA Tawaang article “Menanam Rica, Merawat Leluhur.”
%20(1).jpeg)
Komentar
Posting Komentar